LASKAR KREASI. LASKAR PELANGINYA BEM FARMASI

 BEM, siapa yang gak tau organisasi ini?? bagi yang gak tau, sini tak kasi tau. BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa adalah suatu organisasi yang didirikan oleh mahasiswa yang memiliki visi misi sama yang bertujuan untuk mempermudah kegiatan kemahasiswaan di kampus seperti advokasi akademik ke bagian akademika fakultas maupun universitas, memfasilitasi pengembangan softskill mahasiswa dengan mendirikan klub kesenian, fotografi dan lain pekerjaan-pekerjaan lainnya. (more…)

Read More

BAGAIMANA REKTOR “MASA DEPAN UNAND” ?

            Tahun 2015, Universitas Andalas akan kembali mengadakan pemilihan rektor baru setelah sebelumnya dijabat oleh Dr. Werry Darta Taifur SE, MA. Banyak calon baru yang bermunculan dari berbagai latar belakang yang berbeda. Hingga hari terakhir pendaftaran, 12 Juni 2015, telah terdaftar 8 orang bakal calon untuk menjadi rektor universitas andalas. Kedelapan bakal calon rektor tersebut adalah Dr. dr.  Masrul, M.Sc., Sp.GK (Fakultas Kedokteran), Prof. Dr. Fashbir Noer Hadinata Sidin (Fakultas Ekonomi), Dr. -Ing. Ir. Uyung Gatot S. Dinata, MT (Fakultas Teknik), Prof. Dr. Marlina (Fakultas Farmasi), Prof. Dr. Werry Darta Taifur SE, MA (Fakultas Ekonomi), Prof. Dr. Novesar Jamarun (Fakultas MIPA), Prof. Dr. Tafdil Husni (Fakultas Ekonomi), dan Dr. Ir. Jafrinur, MSP (Fakultas Peternakan).

                Dibawah kepemimpinan Pak Werry Darta, Universitas Andalas berhasil menyabet beberapa prestasi, salah satunya menjadi Universitas dengan akreditasi A, yang merupakan salah satu dari dua Universitas di luar pulau Jawa yang menerima akreditasi tersebut. Tidak hanya itu, rektor yang berlatarbelakang pendidikan dari Fakultas (more…)

Read More

PERATURAN TENTANG TEMBAKAU, PERATURAN ATAU TULISAN BELAKA?

Rokok merupakan salah satu sumber devisa negara yang disebut-sebut termasuk salah satu penyumbang terbesar untuk Indonesia. Rokok juga merupakan produk yang di gandrungi oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda, miskin maupun kaya. Benda yang membuat orang kecanduan ini berbahan baku tembakau. Gerakan menyuarakan penolakan rokok sampai penolakan untuk merokok telah banyak dilakukan. Namun tau kah anda apa usaha pemerintah dalam menangani masalah yang berkutat pada tembakau ini ??? ya, tentu saja salah satunya adalah melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah sendiri. Tapi, perlu dipertanyakan, apakah peraturan yang dituliskan dikertas tersebut terealisasikan?

Berikut kami ulas salah satu dari berbagai peraturan pemerintah tentang tembakau. Peraturan yang menjadi fokus kami adalah peraturan pemerintah nomor 109 Tahun 2012 Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

Pasal 2 pada Peraturan Pemerintah ini berisi tentang penyelengaran pengamanan. Menariknya, pada pasal 2d dikatakan “melindungi kesehatan masyarakat dari asap rokok orang lain“ sedangkan logikanya bagaimana mungkin pemerintah bisa melindungi kita dari asap rokok jika pemerintah tetap menyuplai produk berbahaya ini ke penduduknya, padahal sebagaimana kita ketahui asap dapat terbang bebas kemana-mana. Isi dari pasal ini sepertinya hanya kemunafikan belaka, belum ada aksi yang serius untuk menjalankan peraturan ini. Berdalih dengan penggunaan ruangan khusus perokok pun rasanya tetap mengada-ngada. Pasalnya, ruangan tersebutpun belum benar-benar digunakan.

Selanjutnya pasal 21 yang berisikan tentang ketentuan apa saja yg harus ada pada kemasan rokok, pasal 21a berbunyi : pernyataan, “dilarang menjual atau memberi kepada anak berusia di bawah 18 tahun dan perempuan hamil”, yang perlu digarisbawahi adalah kalimat dilarang menjual atau memberi kepada anak berusia dibawah 18 tahun, jika kita amati, untuk apa pernyataan ini tertulis dikemasan rokok jika hanya sekedar tertulis saja tanpa ada yang terlaksanakan sedikitpun. Hal ini terbukti dari kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia yang anak-anak SMP bahkan SD dapat membeli rokok dengan mudah dan mengkonsumsinya secara terang-terangan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa hukum di Indonesia tidak berjalan sama sekali. Jika hal ini tidak di tanggani dengan cepat dan tepat maka Indonesia pasti akan kehilangan bibit-bibit penerus yang gemilang untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah. Indonesia hanya akan berjalan di tempat dan melihat Negara lain berlari kencang menuju kejayaan. Pelarangan penjualan rokok kepada anak-anak dibawah 18 tahun kembali ditegaskan pada bagian ketiga peraturan pemerintah mengenai peredarannya, lebih tepatnya pada pasal 25 yang berbunyi : Setiap orang dilarang menjual Produk Tembakau: a. menggunakan mesin layan diri; b. kepada anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun; dan c. kepada perempuan hamil.

Pasal 46 yang berbunyi “setiap orang dilarang menyuruh anak di bawah 18 tahun untuk menjual membeli atau mengkonsumsi produk tembakau“ juga perlu kita amati. Realitanya, angka pembeli rokok yang terus mengalami peningkatan adalah anak-anak yang berada pada rentang usia 10-15 tahun, umumnya mereka membeli rokok karena disuruh oleh ayah, paman, atau kakek mereka, bahkan untuk konsumsi pribadi. Ini bukti bahwa hukum di Indonesia perlu ditingkatkan lagi penerapan dan publikasinya kepada mayarakat luas, agar hukum kita tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita sendiri. Kita perlu bercermin ke negara lain mengenai penerapan pasal ini, seperti Jepang atau korea yang menegaskan bahwa anak-anak yang belum cukup umur tidak akan bisa membeli rokok.

Pada pasal 50 mengenai tempat-tempat tanpa rokok, beberapa diantaranya adalah tempat proses belajar mengajar, angkutan umum dan dll. Namun realitanya, kita masih dapat menemukan orang yangh merokok di lingkungan yang seharusnya tidak diperbolehkan. Bahkan pada lingkungan belajar-mengajar guru/dosen malah memberikan contoh yang tidak baik dengan merokok di lingkungan tempat mereka mengajar. Tidak hanya itu, di angkutan umum dengan orang yang beragam mulai dari anak-anak, dewasa, bahkan ibu hamil, tetap saja peraturan ini tidak diindahkan meskipun telah merugikan orang yang bukan perokok (perokok pasif).

Dari beberapa pasal di atas sudah terlihat bagaimana penggambaran regulasi di Indonesia yang semuanya berbanding terbalik antara pasal dan penerapannya, padahal ini hanya beberapa pasal dari satu peraturan pemerintah. Hal ini merupakan cambukan keras bagi pemerintah kita untuk meninjau ulang peraturan-peraturan yang ada, apakah benar-benar sudah diterapkan atau hanya sebatas ketikan di atas kertas belaka.

Read More