[Press Release] SHARING KNOWLEDGE ” Berkaca dari Kasus Siloam, Salah Siapa? “

                Sharing Kwoledge yang merupakan proker dari BEM KM Fakultas Farmasi Universitas Andalas berhasil diangkatkan pada hari kamis tanggal 12 Maret 2015 pukul 13.15 Wib di kafe farmasi. Acara yang bertemakan “Berkaca dari Kasus Siloam, Salah Siapa?” ini menghadirkan 2 (dua) orang pembicara dari sudut pandang yang berbeda, Bapak Dr. (Clin Pharm) Dedi Almasdy, Msi, Apt. yang mengemukakan pendapatnya dari sudut pandang klinis dan Bapak Syofyan, Msi, Apt. yang berbicara melalui sudut industri. Acara ini semakin menarik dengan konsepan talkshow yang diberikan.

Sharing Knowladge, berkaca dari kasus siloam salah siapa?
Kepala Departemen Kastrat, Hadi Syukria (tengah), bersama pemateri Sharing Knowledge, Bapak Syofyan (kanan) dan Bapak Dedy Almasdy (kiri)

            Acara ini diawali dengan pembukaan oleh Gubernur Fakultas Farmasi yang kali ini diwakili oleh Wakil Gubernur Fakultas Farmasi Universitas Andalas. Pada kesempatan tersebut, beliau mengemukaan harapannya agar acara ini dapat terus berlangsung seperti yang direncanakan yaitu satu kali setiap bulan. Setelah dibuka, acara ini langsung diserahkan kepada moderator yang merupakan Kepala Departemen Kajian dan Strategis Fakultas Farmasi Universitas Andalas.

            Tema yang diangkatkan kali ini memicu munculnya banyak tanggapan dari para mahasiswa yang menghadirinya. Pasalnya, tema yang diangkat tersebut berpatok pada kasus yang terjadi pada tanggal 16 Februari 2015 lalu. Kasus yang menyebabkan kematian terhadap 2 (dua) orang pasien akibat kesalahan pemberian obat di Rumah Sakit Siloam. Secara tidak langsung, kasus ini telah menyeret salah satu profesi kesehatan yaitu apoteker. Apoteker yang pada awalnya hanya dipandang sebelah mata kini banyak diperbincangkan karena kasus tersebut. Kasus ini menitikberatkan obat dan melibatkan salah satu industri obat terkemuka, PT. Kalbe Farma serta Rumah Sakit Siloam yang merupakan salah satu rumah sakit besar di Indonesia.

            Diduga, kematian pasien disebabkan oleh tertukarnya obat yang akan diberikan. Bupivacain yang diberikan untuk tujuan anestesi ternyata berisi asam traneksamat yang merupakan obat koagulan, sehingga terjadi shock anafilaktik terhadap kedua pasien. (more…)

Read More

Berkaca dari Kasus Siloam, Salah Siapa?

Akhir-akhir ini, berita hangat kembali mengguncangkan dunia kesehatan Indonesia. Namun kali ini, kasus tersebut bukan menyangkut kartu atau asuransi, melainkan kesalahan pemberian obat yang diberikan kepada 2 pasien di Rumah Sakit Siloam, Tangerang. Bupivacain yang diberikan dengan tujuan sebagai anastesi ternyata berisi asam traneksamat yang merupakan obat koagulan. Kedua obat ini memiliki efek yang sangat berbeda. Ada beberapa sudut pandang yang cukup menarik untuk dikaji dari kasus tersebut, mulai dari faktor obat, kesesuaian produksi, faktor rumah sakit, peran BPOM dan penyelidik, serta tentunya peran apoteker.

Asam traneksamat dan bupivacain, kedua obat ini cukup mengambil peran dalam dunia kesehatan. Dalam kasus siloam, kita kembali dipaksa memikirkan tentang pentingnya pemberian obat yang benar dan rasional, walaupun klaim yang tersebar dalam kasus ini karena ketidaksengajaan. Bupivacain merupakan obat yang memberikan efek bius, sehingga pasien tidak merasa nyeri ketika operasi (biasanya operasi kecil). Namun, dalam kasus ini, secara tidak sengaja obat yang dikira berisi bupivacain ternyata berisi asam traneksamat, yang digunakan untuk mengatasi pendarahan. Fatal? Tentu saja. Pasien yang tidak memerlukan efek obat ini akan memperlihatkan gejala yang tidak diharapkan, apalagi jika asam traneksamat tersebut ternyata digunakan dalam dosis dan rute pemberian tidak tepat. Kita bisa berkaca pada kasus siloam, dimana pasien menjadi kejang-kejang dan tidak terselamatkan. (more…)

Read More

CODEIN: Saatnya Mahasiswa Berani Bicara!

Diskusi kelompok kecil CODEIN
Diskusi Kelompok kecil CODEIN

BEM KM Fakultas Farmasi UNAND kembali membuat gebrakan baru. Selasa, 03 Maret 2015 lalu, Departemen Kastrat dibawah BEM KM Fakultas Farmasi UNAND mengadakan kegiatan bertemakan debat dan diskusi. Community of Debate and Discussion, yang selanjutnya disingkat CODEIN, adalah sebuah komunitas atau wadah pertama di lingkungan farmasi Unand yang bergerak didalam pengembangan softskill debat dan diskusi. Dengan latar belakang masih minimnya kemampuan untuk menyuarakan aspirasi, CODEIN dibentuk sebagai wadah dalam bertukar pikiran, informasi, serta menyuarakan aspirasi, baik dalam bentuk debat maupun diskusi.

CODEIN yang dilaksanakan di lantai 3 Fakultas Farmasi lama ini resmi dibuka oleh Gubernur BEM KM Fakultas Farmasi Unand, Vonny Kurnia Utama, dan dilanjutkan dengan penyampaian latar belakang dan gambaran umum mengenai CODEIN oleh Kepala Departemen Kastrat, Hadi Syukria. Kegiatan yang berlangsung sekitar 2 jam ini diikuti oleh mahasiswa farmasi Unand (KBMF) dari berbagai angkaan yang berbeda.

Setelah penyampaian latar belakang dan gambaran umum CODEIN, kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi ringan antar peserta. Disamping untuk berbagi ilmu, diskusi juga bertujuan untuk menambah ilmu, serta melatih kemampuan berbicara di depan orang banyak. Selanjutnya, berbekal kemampuan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan potensi debat dengan berbagai tema yang diberikan, khususnya kesehatan dan farmasi.

Sebagai luaran dari kegiatan ini, diharapkan nantinya anggota CODEIN dapat berpikir kritis, dapat menambah wawasan dengan seringnya berdiskusi, mampu membangun kerjasama tim, serta lebih luwes dan cakap dalam berbicara. Untuk jangka panjang, peserta diharapkan mampu bersosialisasi dengan mudah dalam kehidupan bermasyarakat ataupun dunia kerja nantinya.

Untuk kedepannya, CODEIN akan terus dilaksanakan secara rutin dan dapat diikuti oleh berbagai angkatan di lingkungan farmasi Unand. Dengan adanya CODEIN ini pula, diharapkan mahasiswa farmasi cakap dan mampu bersaing dalam segi lisan dan tulisan, baik di lingkungan fakultas, univeristas, maupun nasional. (Atika Melati)

Read More